Sabtu, 22 September 2012

SEJARAH EMBRIOLOGI

| |

Setelah Aristotiles, orang yang mempelajari embriologi  adalah William Harvey (1578-1657), yang pada tahun 1651 menulis buku “Tentang Generasi Hewan”. Dikatakan bahwa semua hewan berasal dari telur. Pernyataan ini diperkuat dengan penemuan R. de Graaf (1641-1673), menyatakan bahwa indung telur (ovarium) pada burung sama dengan indung telur pada kelinci. Ia juga merupakan peneliti pertama yang mengenal bersatunya sel telur dan sperma agar terbentuk embrio. De Graf juga membuktikan bahwa sel telur dan sperma sama- sama membawa bahan genetika untuk keturunannya. Selain itu, A. Van Leeunwenhook (1677) melihat spermatozoa orang dalam mani (semen).
                                           M. Schleiden dan T. Schwann (1839) menemukan “teori sel”, yang berbunyi; “sel adalah unit dasar kehidupan”. Semua hewan dan tumbuhan dibangun atas sel-sel. Sedangkan R. Virchow (1859) merumuskan pula istilah terkenal: “Omne cellula e cellula”, sel berasal dari sel yang telah lebih dulu ada. Itu berarti setiap sel tubuh berasal dari sel kelamin (gamet), dan setiap sel yang ada sekarang di bumi, baik hewan maupun tumbuhan, berasal dari sel yang relatif ada di masa purba. Sementara itu Spallanzani (1729 – 1799) mengatakan, bahwa hasil berkelamin jantan dan betina perlu untuk mulainya embriogenesis.
                                           Seiring berkembangnya pengetahuan tentang embriologi, maka para ilmuan banyak mengeluarkan teorinya masing-masing. Seperti halnya teori yang dikemukakan oleh Jan Swammerdam, teori ini menganut teori performasi yaitu, embrio sudah ada dalam telur dan telah terbentuk sempurna, sebagai miniatur yang terkandung dalam biji.
                                           Pada abad ke- 18, teori preformasi berkembang dengan baik dan membentuk beberapa aliran diantaranya menyatakan bahwa ada kekuatan vital dalam benih organisme dan kekuatan ini menyebabkan pertumbuhan embrio menurut pola perkembangan yang telah dibentuk sebelumya. Untuk membuktikannya harus dilakukan pengamatan secara empiris (percobaan).  C. F. Wolff (1738- 1794) melaksanakan pengamatan ini dan mengemukakan teori epegenesis embriologi pada tahun 1759. Ia sendiri mengkritik teori preformasi dalam bukunya “Teori Generasi” hingga terus berkembangnya ilmu pengetahuan tentang embriologi.
   Pada masa modern ini., ketika wilayah ilmu pengetahuan meluas dan banyak hakikat terkait dengan isyarat-isyarat Al-Quran yang sebelumnya tidak ia diketahui. Manusia menjadi bertambah dekat dengan isyarat-isyarat tersebut, serta banyak sekali yang dilakukan penelitian yang khusus oleh para ilmuan muslim dan bukan muslim.
           Kita dapat melihat salah satu keajaiban Al-Quran adalah tentang proses penciptaan manusia yang dibuktikan benar oleh sains modern setelah empat belas abad ia diturunkan. Sungguh membuka pikiran bahwa kita mendapati Al-Quran menerangkan tahap-tahap pembentukan embrio manusia dengan cara yang tidak pernah diketahui sebelum abad ke-19 dan ke-20

0 komentar:

Ir arriba

Poskan Komentar

Blog List

My Blog List

About this blog




Visitors ulun...

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Blogger news


Pages

Uswatun Nida saima. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Translate

About Me

Foto Saya
Annida SaimaRamadhani
I love science and obsessed by amazing nature

Lihat profil lengkapku

Followers

About Me

Foto Saya
Annida SaimaRamadhani
I love science and obsessed by amazing nature

Lihat profil lengkapku
 
 

Diseñado por: Compartidísimo
Con imágenes de: Scrappingmar©

 
Ir Arriba